Selasa, 29 Mei 2012

Sejarah Neo-konfusius


Sejarah Neo-konfusius

Neo-Konfusianisme adalah filosofi Cina etika dan metafisikal dipengaruhi oleh Konfusianisme, yang terutama dikembangkan selama Dinasti Song dan Dinasti Ming, tetapi yang dapat ditelusuri kembali ke Han Yu dan Li Ao (772-841) dalam Dinasti Tang.
Tokoh cendekiawan neo-Konfusianisme
Cina
  • Cheng Yi dan Cheng Hao
  • Lu Xiangshan alias Lu Jiuyuan (1139–1193)
  • Ouyang Xiu (1007–1072)
  • Shao Yong (1011–1077)
  • Su Shi, alias Su Dongpo (1037–1101)
  • Wang Yangming alias Wang Shouren
  • Ye Shi (1150–1223)
  • Zhang Sanfeng[rujukan?]
  • Zhang Shi (1133–1180)
  • Zhang Zai
  • Zhou Dunyi (1017–1073)
  • Zhu Xi (1130–1200)
Jepang
  • Fujiwara Seika (1561–1619)
  • Hayashi Razan (1583–1657)
  • Nakae Tōju (1608–1648)
  • Yamazaki Ansai (1619–1682)
  • Kumazawa Banzan (1619–1691)
  • Yamaga Sokō (1622–1685)
  • Itō Jinsai (1627–1705)
  • Kaibara Ekken (aka Ekiken) (1630–1714)
  • Arai Hakuseki (1657–1725)
  • Ogyū Sorai (1666–1728)
  • Nakai Chikuzan (1730–1804)
  • Ōshio Heihachirō (1793–1837)
Korea                 
  • An Hyang (1243–1306)
  • Yi Saek (1328–1396)
  • Jeong Mong-ju (1337–1392)
  • Jeong Dojeon (1342–1398)
  • Gil Jae (1353–1419)
  • Jeong Inji (1396–1478)
  • Kim Jong-jik (1431–1492)
  • Jo Gwang-jo (1482–1519)
  • Yi Hwang (nama pena Toegye) (1501–1570)
  • Jo Sik (1501–1572)
  • Yi I (nama pena Yulgok) (1536–1584)
  • Seong Hon (1535–1598)
  • Song Si-yeol (1607–1689)
Vietnam
  • Nguyễn Khuyến
  • Phan Dinh Phung
  • Tự Đức
Sebenarnya, neo-konfusianisme yang disimpulkan oleh filsuf Cina, Zhu Xi setelah dikembangkan oleh Meng-Tse (Mencius) dan Kong Fu-chu, dipelajari oleh para cendikiawan di Korea, Seon-bi, sebagai petunjuk hidup yang benar. Demikianlah, neo-konfusianisme yang dijadikan sebagai ilmu dasar untuk pemikiran dan praktek pada dinasti Joseon yang diperkenalkan untuk pertama kali oleh cendikiawan pada dinasti Goryeo, Ahn Hyang.
Neo-Konfusianisme merupakan upaya untuk menciptakan bentuk yang lebih rasionalis dan sekuler dari Konfusianisme dengan menolak unsur-unsur takhayul dan mistis dari Taoisme dan Buddha yang dipengaruhi Konfusianisme selama dan setelah Dinasti Han. Meskipun Neo-Konfusiusme secara kritis Taoisme dan Buddhisme, dua memang memiliki pengaruh pada filosofi, dan Neo-Konfusiusme meminjam istilah dan konsep dari keduanya. Namun, tidak seperti Buddha dan Taois, yang melihat metafisika sebagai katalis untuk pengembangan spiritual, pencerahan agama, dan keabadian, Neo-Konfusiusme digunakan metafisika sebagai panduan untuk mengembangkan filsafat etika rasionalis.
Konfusianisme pada periode Tiga Kerajaan
Paham dan kepercayaan yang pertama kali masuk ke Korea sebelum Konfusianisme adalah Budhhisme, yaitu pada zaman Tiga Kerajaan Korea (57 SM-935 M). Agama Buddha memengaruhi sistem pendidikan, moral dan politik, dan pada saat yang sama Konfusianisme dipraktekkan oleh kalangan istana.
Kerajaan Goguryeo yang paling dekat lokasinya dengan Tiongkok, pertama kali mengadopsi Budaya Tiongkok dan Buddhisme. Konfusianisme pertama kali diterima di Goguryeo, lalu berturut-turut ke Baekje dan Silla kemungkinan sejak abad ke-4 Masehi, saat ketiga negara telah mencapai tingkat kematangan.
Walau begitu Goguryeo tetap memelihara adat istiadat dan tradisi aslinya. Di pihak lain, Baekje menerapkan paham konfusianisme secara penuh, yang membentuk sistem pemerintahan dan seni budayanya. Silla tercatat paling akhir menerima Konfusianisme untuk mengatur administrasi negaranya.
Peristiwa-peristiwa penting
  • Raja Gwangjong (949 - 975) membuat sistem ujian negara (gwageo).
  • Raja Seongjang dari Goryeo (981–997) mendirikan gukjagam, yaitu perguruan tinggi yang memakai kurikulum Konfusius, contohnya seperti Perguruan Tinggi Sungkyunkwan. Ia juga membangun sebuah altar di istana sebagai penghormatan bagi leluhurnya.
Neo-Konfusianisme pada masa dinasti Joseon
Paham Konfusianisme di Joseon diterapkan sangat ketat dengan penggunaan ide dan ideal yang kentara; chung adalah kesetiaan; hyo: rasa persatuan; in: kebajikan dan sin adalah kepercayaan.
Sejak 1392, saat berdirinya Joseon, Konfusianisme dianut secara mendalam oleh kaum bangsawan (yangban) dan para pejabat. Masyarakat Korea sejak lama telah mudah untuk mengikuti ajaran kepercayaan dan memelihara hubungan baik dengan berbagai penganut agama. Keluarga istana adalah penganut Konfusianisme, biksu di sisi Buddhisme yang semakin terdesak, dan rakyat yang mempraktekkan shamanisme.
Konfusianisme memainkan peran penting karena diterapkan secara luas pada bidang adminstrasi negara dan peraturan sosial, mengintegrasikan masyarakat yang berbudaya berdasar cara Tiongkok untuk meningkatkan transfer budaya dari negeri tersebut.
Konfusianisme dan masyarakat kontemporer
Elemen-elemen Konfusianisme masih berpengaruh kuat dalam sistem hirarki, organisasi, dan administrasi hingga saat ini di Korea. Walau begitu, saat ini Konfusianisme tidak lagi dianggap perlu untuk dianut sebagai kepercayaan, karena semakin beragamnya kepercayaan masyarakat Korea. Seorang penganut Konfusianisme seringkali mempraktekkan kepercayaan lain seperti Tao, Buddhisme, shamanisme atau pun Kristen.
Seni dan budaya Konfusianisme
Berbagai bentuk kesenian dan budaya Korea saat ini dipengaruhi oleh pendalam Konfusianisme. Contohnya antara lain:
  • Seni kaligrafi
  • Sastra
  • Lukisan
  • Tarian, contohnya: Hanryangchum, Bongtaepyeong-ji-mu dan sebagainya.
  • Merangkai bunga
  • Seni membuat taman
  • Arsitektur, contoh kuil Jongmyo, altar Sajik, Kuil Munmyo dan sebagainya.
  • Upacara Teh, dan sebagainya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar