Keimanan Dalam Konfusinisme
A.
Sekilas Asal Konfusius
Cina
adalah sebuah Negara yang memiliki sejarah cukup panjang, yang konon dimulai
sekitar tahun 2.700 S.M. Cina memiliki tiga agama besar yaitu Konfusianisme,
Taoisme dan Buddhisme.
Beberapa
sumber kuno seperti Sje-Tsing (buku puji-pujian, dan Shu Ching (Buku Sejarah).
Memberi kesan bahwa bangsa Cina purba menganut faham Monoteis, yaitu percaya
pada satu Tuhan, nama yang diberikan untuk tuhan mereka adalah Shang-ti
(Penguasa Tertinggi), dan Tien (Sorga).
B.
Ajaran Tentang Tuhan
Agama kongfutzu, atau biasa dibunyikan dengan Kong Hu
Cu, di kaitkan dengan nama pendiri agama ini yaitu Kung Fu Tze (551-479 SM).
Ada yang menilai bahwa ajaran Kung Fu Tze bukanlah suatu agama melainkan
hanyalah ajaran tentang nilai-nilai (Ethika) saja, karena Kung Fu Tzu sendiri
menghindarkan diri untuk berbicara tentang alam gaib. Akan tetapi R.E Hume,
Ph.D. dalam bukunya The World`s Living Religions Edisi 1950 menjelaskan
bahwa sistem ajaran Kung Fu Tzu itu mengenal pengakuan terhadap kodrat maha
Agung (Supreme Being), serta mempercayai pemujaan terhadap arwah Nenek
Moyang (Ancetors-Worship), juga mengajarkan tata tertib Kebaktian.
dengan landasan inilah seiring perkembangan zaman ajaran Kung Fu Tze termasuk
kepada ajaran keagamaan.
Pemujaan
terhadap langit.
Berbeda dengan penafsiran pada masa belakangan, Kung Fu Tze sendiri
menghindarkan diri untuk berbicara tentang alam gaib dan kodrat gaib. Didalam
keseluruhan himpunan klasik, yang langsung ditulis oleh Kung Fu Tze, Cuma satu
kali saja dijumpai sebutan Shang Ti (Yang Maha Kuasa) dan itupun didalam baris
sajak, (Shih Ching, 20 : 1).
Akan tetapi dibalik itu memang dia banyak mempergunakan sebutan Tien, yang
artinya Langit (Heaven). “Guru berkata mengakui dan mentaati
ketetapan-ketetapan langit akan mustahil menjadi manusia sempurna”. (20 :
1,2,3).
Dengan sebutan langit (Tien, Heaven) itu dipahamkan suatu kodrat yang menguasai
perwujudan alam dan kehidupan manusiawi.
Kung Fu Tze, dengan begitu mengakui perwujudan alam gaib dan kodrat gaib yang
bersidat menentukan kehidupan manusiawi. Tetapi dia sendiri tidak melakukan
pembahasan tentang alam gaib maupun kodrat gaib itu.
Dalam agama
Kong Hu Cu ada yang disebut pengakuan Iman, diantaranya ada delapan Pengakuan
Iman (Ba Cheng Chen Gui) dalam agama Khonghucu:
1. Sepenuh
Iman kepada Tuhan Yang Maha Esa (Cheng Xin Huang Tian)
2. Sepenuh
Iman menjunjung Kebajikan (Cheng Juen Jie De)
3. Sepenuh
Iman Menegakkan Firman Gemilang (Cheng Li Ming Ming)
4. Sepenuh
Iman Percaya adanya Nyawa dan Roh (Cheng Zhi Gui Shen)
5. Sepenuh
Iman memupuk Cita Berbakti (Cheng Yang Xiao Shi)
6. Sepenuh
Iman mengikuti Genta Rohani Nabi Kongzi (Cheng Shun Mu Duo)
7. Sepenuh
Iman memuliakan Kitab Si Shu dan Wu Jing (Cheng Qin Jing Shu)
8. Sepenuh
Iman menempuh Jalan Suci (Cheng Xing Da Dao)[5]
C.
Ajaran Tentang Keimanan
Penyebaran
ajaran-ajaran Kong Hu Cu dimulai tidak lama setelah dia meninggal dunia.
Setelah berkabung karena kematiannya pendirinya yaitu Kong Fu Tze, para murid
Kong Fu Tze menyebarkan dan masing-masing menempuh jalannya sendiri-sendiri
dalam melanjutkan pekerjaan penyebaran agamanya. Akan tetapi akibat
perbedaan-perbedaan yang semakin lama semakin bertambah besar karena
masing-masing mengembangkan system pemikiran tersendiri, sesuai dengan
kepentingan dan keyakinannya.
Keimanan kaum Kong Hu Cu (Konfusius) tidak lepas dari kitab suci agama itu
sendiri yang diyakini ditulis oleh Konfusius sendiri yaitu :
- Shu Ching, Buku tentang sejarah. Aslinya mengandung 100 dokumen sejarah sejarah dinasti-dinasti kuno Cina dan mencakup suatu periode yang dimulai dari abad ke-24 S.M. sampai abad 8 S.M. Konfusius dikatakan telah menyusun dokumen-dokumen ini secara kronologis dan menulis kata pengantarnya. Dokumen ini tercampur dengan ajaran-ajaran agama dan moral.
- Shing Ching, yaitu buku tentang puisi, yaitu kumpulan sajak-sajak yang popular yang ditulis lima ratus tahun pertama dari dinasti Chan.
- Yi Ching, Buku tentangperubahan-perubahan. Buku ini mengemukakan system yang sangat fantastis menyangkut filsafat dan menjelaskan apa yang disebut dengan prinsip Yin (wanita) dan Yang (pria).
- Li, Chi, buku tentang upacara-upacara. Konfusius menyetujui beberapa upacara tradisional untuk mendisiplinkan rakyat dan membawakehalusan budi, keagungan dan kesopanan kedalam tingkah laku sosial mereka.
- Yeo, buku tentang music. Pada zaman konfusius music berhubungan erat dengan puisi, sehingga ketika ia menerbitkan sajak-sajak kuno ia juga menyusun pasangannya berupa music untuk setiap sajak yang telah diseleksinya.
- Chu`un Ch`ii, tentang sejarah musim semi dan musim rontok, yaitu catatan kronologis tentang peristiwa-peristiwa di negri Lu mulai tahun pertama pemerintahan pangeran Yiu (722 S.M) hingga tahun keempat belas dari pemerintahan pangeran Ai (481 S.M).[6]
D.
Ajaran Tentang Hidup Setelah Mati
Pemujaan
arwah nenek moyang Pemujaan arwah nenek moyang telah merupakan tradisi bagi
bangsa Tionghoa sejak masa sebelum Kung Fu Tze. Tradisi tersebut dikukuhkan
oleh Kong Fu Tze karena dipandangnya suatu sumber azasi bai nilai-nilai
lainnya.
“Layanan
cinta kasih dan takzim kepada ibu-bapa sewaktu hidup. Dan berduka cita srta
berkabung sewaktu mereka meninggal dunia: sekaliannya itu kewajiban asazi bagi
yang hidup.” (SBE, 3 : 488).
Menurut
kepercayaan, ibu-bapa yang telah meninggal tetap hidup berkelanjutan dan tetap
mengawasi turunannya. Perembahan makanan pada waktu-waktu tertentu itu bukan
bersifat korban tebusan, tetapi perlambang santap bersama yang dipandang sakral.
Karakteristik
umum dalam agama orang Cina pada masa Konfusius adalah penyembahan leluhur.
Penyembahan leluhur adalah pemujaan roh-roh orang mati oleh kerabatnya yang
masih hidup. Mereka percaya bahwa kelanjutan kehidupan roh-roh leluhurnya
tergantung dari perhatian yang diberikan oleh para kerabatnya yang masih hidup.
Mereka juga menyakini bahwa para roh tersebut dapat mengendalikan peruntungan
keluarga.
Jika
keluarga menyediakan kebutuhan roh para leluhur, sebagai imbalannya, roh para
leluhur itu akan membawa hal-hal baik yang terjadi dalam kehidupan keluarga.
Namun, jika para leluhur diabaikan, diyakini bahwa semua hal yang buruk akan
menimpa keluarga. Akibatnya, orang yang hidup terkadang hidup dalam ketakutan
kepada mereka yang telah mati. Richard C. Bush menyatakan:
“Penyembahan
leluhur oleh keluarga kerajaan dan rakyat jelata mengungkapkan beberapa alasan
mengapa mereka melakukannya. Mereka ingin para leluhur dapat hidup di luar
kubur, menjalani hidup sama seperti bagaimana mereka hidup di bumi; oleh karena
itu, yang masih hidup mencoba untuk memberikan apapun yang sekiranya
diperlukan. Alasan kedua adalah bahwa jika mereka tidak diberi makanan,
senjata, dan perlengkapan yang diperlukan untuk bertahan hidup di luar sana,
para leluhur dapat mendatangi mereka sebagai hantu dan membawa masalah bagi
yang hidup. Hingga kini, orang Cina merayakan "Festival Hantu Lapar",
menaruh makanan dan anggur di depan rumah untuk memuaskan roh leluhur atau hantu
yang tidak diperhatikan keturunannya yang kemudian menghantui. Motif ketiga
adalah untuk memberitahu para leluhur apa yang terjadi pada masa kini, dengan
harapan para roh leluhur itu, entah bagaimana caranya, mengetahui bahwa
semuanya baik-baik saja sehingga mereka dapat hidup dengan damai. Dan alasan
terakhir, pemujaan roh leluhur menunjukkan harapan bahwa para leluhur akan
memberkati keluarga yang masih hidup, dengan anak-anak, kemakmuran,
keharmonisan, dan segala yang berharga. (Richard C. Bush, The Story of Religion
in China, Niles, IL: Argus Communication, 1977, hal. 2)”[8]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar